25/06/12

[True Story] Kisah Cinta Sejati Phang dan Yin


DuniaQ Duniamu





Nama saya Phang, saya pertama kali melihat istri saya pada waktu
saya masih 18 tahun. Ayah saya pejuang yang berpindah-pindah tugas sejak perang
Indocina di Kamboja tahun 1950-an, pada akhir 1970-an kami sekeluarga
ditempatkan di Siem Reap di mana saya satu kampung dengan Yin, istri saya. Saya
tidak pernah kenal dengan dia walau satu kampung, tetapi saya sering melihatnya
sore-sore di depan rumah. Dia waktu itu masih berusia 10 tahun, delapan tahun
lebih muda dari saya.





Setelah itu saya tidak pernah melihatnya lagi karena keluarga saya
pindah ke kota lain, dan pindah lagi, dan pindah lagi. Sebelum pindah dari Siem
Reap, tetangga-tetangga sempat memanggil juru foto dan mengajak keluarga saya
foto bersama, foto itu selalu dibawa oleh ayah saya dan ditaruh di ruang tamu
setiap kali kami pindah rumah. Dari foto itulah saya selalu ingat Yin, wanita
cilik bermuka pucat yang teduh matanya. Dia terlihat kurus di foto itu dengan
rambutnya yang dipotong cepak karena kutuan.





Di usia saya menjelang 30 tahun saya bekerja sebagai tukang pos. Tugas
saya mengantar surat setiap hari di utara kota Phnom Penh. Saya
tergolong pekerja keras tetapi suatu pagi, di saat hujan deras sekali, saya
malas keluar rumah. Ayah saya berkata saat itu :





"Kamu tidak pernah tahu apa isi tumpukan surat itu. Mungkin
ada kabar sukacita, mungkin ada duka, mungkin ada juga yang tidak dapat ditunda
sehari pun."





Kalimat itu membangunkan saya, akhirnya saya putuskan jalan dan
mengantar semua surat-surat itu di tengah hujan deras dan gemuruh guntur. Surat
terakhir yang saya kirim hari itu masih disertai hujan, padahal hari sudah sore
jam 3-an. Saya basah kuyub tetapi hati saya lega. Saat keluar dari kantor itu
setelah mengirim suratnya, sekelibat saya melihat di balik jendela ada wajah
yang saya kenal. Yin! Dia sudah berubah, rambutnya panjang sebahu, badannya
gemukan, pakai kaca mata tetapi saya masih mengenalinya. Saya ingin menyapanya
tapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Setelah beberapa lama saya memutuskan
untuk pulang tanpa bilang halo.





Semalaman saya teringat dia, tetapi saya masih tetap tidak tahu
bagaimana cara menyapanya. Saya berpikir terlalu lama sehingga baru seminggu
kemudian saya punya cara menyapa Yin. Saya datang ke kantor itu lagi dan saya berpikir
untuk minta ijin menemui Yin. Tetapi... saya terlambat! Ternyata Yin tidak lagi
bekerja di situ, hari saya melihat dia adalah hari terakhir dia di sana. Yin
keluar karena dia harus ikut keluarganya pindah ke Hanoi, Vietnam,
karena ayahnya mendapat tugas di sana.





Saya sangat kecewa dan menyesal.





***





Beberapa tahun kemudian saya diterima kerja di sebuah perusahaan
logistik, saya mendapat posisi bagus sebagai manager yang mengurusi pengiriman
barang dari satu kota ke kota lain. Saat itu saya memiliki seorang kekasih dan
punya rencana untuk menikah. Kemudian suatu pagi ketika saya bertugas di Siem
Reap, saya tidak sengaja berpapasan dengan Yin di sebuah gedung pemerintah.
Saya kaget dan tertegun melihat dia, dan saya rasa dia pun demikian. Bodohnya,
saya tidak menyapanya! Saya ragu-ragu karena saya bersama seorang relasi dan
dia bersama beberapa orang teman.





Pertemuan singkat itu benar-benar membuat saya bergejolak! Saya
bertanya-tanya apakah dia mengenali saya? Apakah dia ingat saya? Saya
membodoh-bodohkan diri saya, mengapa saya tidak menyapanya! Tetapi saya juga
berusaha menghibur diri, itu tadi bukan Yin, Yin kan sudah pindah ke
Vietnam. Pikiran tentang Yin tidak pernah hilang. Saya sempat ceritakan ke
kekasih saya dan dia berang karena cemburu.





Beberapa bulan setelah kejadian itu saya mendapat masalah mendadak dan
harus pergi ke Siem Reap. Di tengah kekalutan pekerjaan, saya sedang berjalan
di sisi jalan ketika melihat Yin di jendela sebuah bis jurusan luar kota. Saya
melihatnya dan melambai-lambaikan tangan. Dia pun melambaikan tangan seperti
mengenal saya. Saya berusaha mengejarnya tetapi bis itu terlalu cepat pergi dan
saya kehilangan kesempatan bertemu dia. Kejadian itu sungguh membuat hati saya
bergetar, saya merasa saya jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta.





Gara-gara peristiwa itu saya memutuskan hubungan dengan kekasih
saya, saya merasa tidak bisa menikah dengannya selama saya masih terus
memikirkan Yin. Tidak adil buat dia. Orang tua saya sangat kecewa dengan sikap
saya dan menganggap saya membuang kesempatan terbaik di dalam hidup saya.





***





Sepuluh tahun berlalu, saya tidak pernah melihat Yin. Setiap hari
ingatan saya akan dia membuat hati saya tertutup untuk orang lain. Usia saya
sudah 40 tahun lebih dan semua orang mengira saya tidak menikah karena saya
patah hati ditinggal kekasih saya dulu. Mereka tidak ada yang tahu kalau di
hati saya cuma ada Yin. Sering saya mencoba mencari Yin, dari buku telepon
sampai saya datangi kampung saya dulu untuk tanya di mana keberadaan keluarga
Yin. Ada yang bilang pindah ke Hanoi, ada yang bilang di Phnom Penh, semua
serba simpang siur.





Di ulang tahun saya yang ke 48, saya melihat iklan baris di surat kabar.
Ada seorang Yin mencari 
surat-surat yang hilang dan meminta yang menemukannya untuk mengirimkan
ke Hanoi dan akan diberi imbalan. Saya tidak berpikir panjang, ini pasti Yin
saya! Saya berangkat ke Hanoi beberapa hari kemudian dan menemui Yin. Sayangnya
dia bukan Yin yang saya cari. Yin lain, bukan Yin saya. Teman-teman saya sudah
menasihati lebih baik telepon dulu sebelum berangkat tetapi saya tidak tahu
bagaimana memulai pembicaraan di telepon dan saya terlalu yakin kalau itu pasti
Yin yang saya cari. Surat kabar itu sampai sekarang masih saya simpan sebagai
kenang-kenangan.





Tetapi semua itu tidak sia-sia. Dari ide iklan baris itu, saya memasang
iklan di koran Hanoi : iklan saya singkat : Yin yang dari Siem Reap, hubungi Phang.
Saya memasang iklan itu 3 kali tetapi tidak ada orang yang menghubungi
saya. Kali yang keempat, saya memutuskan untuk mencoba pasang iklan di koran
Phnom Penh, tidak lagi di Hanoi. Dalam perjalanan ke agen iklan saya dikejutkan
oleh Yin. Saya ketemu dia di jalan! Dia keluar dari taxi yang hendak saya
tumpangi.





"Yin, ini aku! Kamu tahu siapa aku?" begitu kata-kata saya
pertama kali.





Jodoh di tangan Tuhan, ternyata Yin sangat mengenal saya. Bahkan
di pertemuan saat itu, dia mengeluarkan foto dari masa kecil kami, foto dengan
para tetangga di Siem Reap. Dia sudah jatuh cinta dengan saya sejak dia masih
10 tahun. Katanya dia sering melihat saya tetapi takut untuk menyapa karena dia
masih kecil dan saya terlihat sangat dewasa. Dan yang lebih menggembirakan
lagi, ia belum menikah!





***





Pertemuan itu adalah awal hubungan percintaan kami. Ternyata Yin
selama itu tinggal di Hanoi, meski pernah ia pernah bertugas beberapa bulan di
Siem Reap. Dia bekerja di perusahaan Vietnam yang punya cabang di Kamboja.
Karena itu kami bertemu setiap beberapa bulan sekali dan merencanakan untuk
segera menikah.





Tetapi perjalanan kasih kami tidak mulus, ayah Yin harus menjalani
transplantasi jantung dan harus dibawa ke Canada. Yin harus pindah ke
sana bersama-sama dengan keluarganya dan kami hanya bisa berhubungan lewat
email dan chat. Lima tahun Yin di sana sampai ayahnya meninggal, kemudian balik
ke Hanoi. Hanya sekali saya mengunjunginya di Toronto, Canada, itupun dengan
menghabiskan semua tabungan yang saya kumpulkan bertahun-tahun. Sebenarnya saya
ingin segera menikahinya tetapi keluarga Yin belum mengijinkan kami karena
ayahnya yang sedang sakit. Mereka percaya bahwa tidak tepat menikah di saat
salah satu anggota keluarga dekat sakit keras.





Sepulang Yin dari Toronto, usia saya sudah 55 tahun. Saya tidak
berpikir panjang, saya akan segera menikahinya. Sekali lagi perjalanan kasih
kami tidak mulus, dalam perjalanan ke Hanoi untuk melamar Yin dengan kedua
orang tua saya, ayah saya terkena stroke dan meninggal di perjalanan. Kami
sangat terpukul dengan kejadian itu, dan lebih-lebih beberapa bulan kemudian
ibu saya menyusul ayah. Ayah saya meninggal di bulan Desember, ibu menyusul
beberapa bulan kemudian di bulan Maret. Praktis tahun itu kami tidak bisa
menikah karena kepercayaan yang tidak menyarankan pernikahan di tahun yang sama
dengan kematian orang tua.





***





Usia saya 57 tahun ketika saya menikahi Yin. Dia masih muda,
belum 50 tahun, terpaut 8 tahun dibanding saya. Sejak hari itu, kami seperti
pangeran dan putri karangan HC Andersen, live happily ever after. Saya sangat
mencintainya, setiap hari seperti pacaran tanpa ada habisnya, inilah true love,
cinta sejati kami. Puluhan tahun kami jatuh cinta tapi tidak bisa sama-sama.
Kami selalu terkenang dengan semua kisah hidup kami  Sering kami masih komunikasi menggunakan
email dan chat, karena Yin sedang di kamar mandi dan Phang di meja makan.